Cristiano Ronaldo Melupakan Nestapa seperti Lagu Let It Be

Posted on

Cristiano Ronaldo Melupakan Nestapa seperti Lagu Let It Be – Di usianya yang kini sudah 35 tahun, ada banyak lembaran manis yang telah tertulis dalam karier sepak bola Cristiano Ronaldo. Bahkan, karena saking banyaknya, rasanya tidak cukup satu dua lembar untuk menuliskannya. Namun, sehebat apapun karier Ronaldo, dia juga pernah merasakan nestapa. Ronaldo pernah merasakan, sepak bola tak selalu memberinya kenangan manis. Sepak bola pun pernah membuatnya menangis. Sejak ia masih belia, hingga kini di usianya yang sudah senja.

Cristiano Ronaldo Melupakan Nestapa seperti Lagu Let It Be

Cristiano Ronaldo Melupakan Nestapa seperti Lagu Let It Be

Di usia 19 tahun, Ronaldo pernah merasakan betapa sedihnya kalah di final turnamen besar. Dia ikut menjadi bagian Timnas Portugal ketika kalah dari Yunani di final Piala Eropa 2004. Tragisnya, kekalahan itu terjadi di rumah sendiri. Ketika Portugal jadi tuan rumah.

Di musim terakhirnya bersama Manchester United di tahun 2009 silam sebelum pindah ke Real Madrid, Ronaldo juga merasakan getirnya kalah di final Liga Champions. Ketika Manchester United dikalahkan Barcelona 0-2 di Kota Roma.

Ronaldo sempat jadi sasaran perundungan

Pun, kini, di usianya yang sudah memasuki “usia pensiun kebanyakan pesepak bola”, Ronaldo juga masih merasakan betapa menyakitkannya kalah di final dan melihat tim lawan mengangkat piala. Itu terjadi pada 18 Juni lalu. Ketika Juventus kalah adu penalti 2-4 (0-0) dari Napoli di final Coppa Italia. Ironisnya, Ronaldo yang siapkan sebagai penendang penalti kelima, justru tidak ikut menendang. Sebab, sebelum gilirannya tiba, adu penalti sudah berakhir. Juve kalah.

Sepekan sebelumnya, Ronaldo juga jadi sorotan. Dia juga jadi olok-olokan di media ketika gagal memasukkan bola dari titik penalti saat Juve menghadapi AC Milan di semifinal yang berakhir 0-0. Sepakannya membentur tiang gawang. Untung saja, Juve masih lolos ke final karena kemenangan agregat.

Namun, laga di Coppa Italia itu membuat Ronaldo lantas di-bully di media. Termasuk oleh penggila bola di Indonesia. Ada banyak komentar nyinyir yang bahkan melecehkan Ronaldo di media sosial. Malah, mantan penyerang Timnas Italia, Luca Toni dalam wawancara dengan Rai Uno yang dikutip Football Italia, menyebut Ronaldo tidak bisa men-dribble bola di laga melawan Napoli.

Bagi pemain yang beberapa kali meraih gelar pemain terbaik dunia, tudingan itu bak sebuah penghinaan. Bagaimana bisa, pemain yang telah meraih hampir segalanya di sepak bola, malah disebut seperti itu. Seolah sama sekali tidak ada penghormatan.

Memang, Toni ikut menjadi bagian Timnas Italia kala memenangi Piala Dunia 2006. Dia juga pernah menjadi top skor Liga Italia. Tapi, ketika dulu bermain, Toni bukan tipikal pemain yang “bisa” mendribel bola. Lha wong kebanyakan gol-golnya dari sundulan dan juga di kotak penalti.

Move on dengan terus mencetak gol di empat laga beruntun

Tapi, berangkat dari momen pahit dan pelecehan inilah, Cristiano Ronaldo justru menunjukkan kebesarannya. Dalam hal move on dari kegagalan, Ronaldo memperlihatkan mengapa dirinya pantas jadi panutan pemain-pemain muda di sepak bola. Kekuatan mentalnya untuk move on dari episode buruk dan membalas perundungan (bullying) dengan serangkaian hasil bagus di lapangan itu pula yang membuat CR7–julukan Ronaldo, disukai dan diidolakan banyak orang.

Memangnya, Ronaldo ngapain usai episode menyakitkan kekalahan di final dari Napoli yang membuatnya kalah beruntun di laga puncak Coppa Italia. Setelah kekalahan dari Napoli di final Coppa Italia itu, Ronaldo seperti tidak mau membiarkan nestapa menghampirinya. Dia terus mencatatkan namanya dalam daftar score sheet. Ronaldo terus mencetak gol di empat pertandingan terakhir di Liga Serie A Italia.

Lima hari usai kekalahan dari Napoli itu, Ronaldo membawa Juventus menang 2-0 atas tuan rumah Bologna (23/6). Dia mencetak satu gol dari penalti. Gol yang seperti menjadi penegas. Bahwa, kegagalannya mengambil penalti saat melawan Milan, hanya karena dirinya sedang sial. Empat hari berselang, dia kembali membuat satu gol dari titik penalti saat Juventus menang telak, 4-0 atas Lecce. Lantas, di awal Juli, Ronaldo mencetak gol keren dari luar kotak penalti ketika Juve menang 3-1 atas Lecce.

Gol itu seolah menjawab nyinyiran Luca Toni bahwa dia bermasalah dengan kondisi fisik dan juga olah bolanya. Sebab, sebelum mencetak gol, Ronaldo membawa bola dari tengah lapangan dan melindunginya dari beberapa pemain Genoa, sebelum melepas tendangan roket. Dan, Minggu (5/7) dini hari tadi, Ronaldo kembali jadi lakon utama saat Juventus mengalahkan Torino 4-1 di laga derby Turin. Ronaldo mencetak satu assist dan satu gol.

Nah, yang menarik, satu gol Ronaldo tercipta melalui tendangan bebas. Pemain yang identik dengan kostum nomor 7 ini akhirnya kembali bisa mencetak gol dari free kick. Sebelum gol itu, Ronaldo tidak pernah lagi mencetak gol free kick di klub dalam 42 kali percobaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *