Striker Murni Menanti Penerus Bambang Pamungkas

Posted on

Striker Murni Menanti Penerus Bambang Pamungkas – Meskipun sepakbola adalah permainan tim. Selalu ada pemain yang paling disorot di dalam tim, biasanya pemain berposisi striker. Dalam permainan sepakbola selain striker murni dikenal juga striker lubang, striker sayap, defensive striker dan lain lain.

Striker Murni Menanti Penerus Bambang Pamungkas

Striker Murni Menanti Penerus Bambang Pamungkas

Tipe sriker yang diulas kali ini adalah striker murni, pemain yang hanya ditugaskan untuk mencetak gol dan tidak dituntut untuk bertahan ataupun menciptakan assist. Pemain ini juga lazim disebut dengan pemain di posisi 9 atau pemain bernomor punggung 9. Seorang pemain yang berposisi striker murni potensial menjadi sorotan pada sebuah klub. Karena perannya sebagai pendulang gol menjadikan striker murni acapkali menjadi penentu sebuah kemenangan.

Tidak mudah menjadi seorang striker murni, posisi ini membutuhkan seorang pemain dengan kualifikasi yang lengkap. Antara lain memiliki postur yang tinggi dan kokoh untuk berduel udara dan beradu badan dengan pemain belakang lawan. Mempunyai pergerakan tanpa bola yang mumpuni serta kemampuan membaca permainan, tendangan yang keras dan yang paling penting mempunyai insting gol yang baik.

Seiring Perkembangan Taktik Permainan Berposisi Sebagai striker murni

Di luar negeri banyak nama beken yang bertugas sebagai striker murni, sebut saja Gabriel Batistuta, Christian Vieri. Luca Toni, atau El Phenomenon Ronaldo Luiz Nazario De Lima. Mereka ini merupakan contoh striker murni yang sekaligus menjadi produsen gol di timnya. Di level lokal, bisa dijumpai nama seperti Ricky Yakobi, Widodo C Putro, Ilham Jaya Kesuma. Kurniawan Dwi Yulianto dan terakhir Bambang Pamungkas, merupakan striker murni yang pernah menghiasi jagad sepakbola Indonesia.

Seiring perkembangan taktik permainan, memang makin jarang kita jumpai pemain yang berposisi sebagai striker murni. Banyak klub besar yang bermain di level tertinggi Benua Eropa, tidak memiliki pemain berposisi di jantung penyerangan ini. Contoh paling anyar adalah juara Liga Inggris musim ini, Liverpool, malah sama sekali tidak mempunyai striker murni. Firminho dan Mohammed Salah bukan striker murni, dari tipikal permainan, mereka lebih cocok disebut defensive striker, meskipun mereka berposisi striker, tetapi juga dituntut untuk mampu bertahan dan merebut bola.

Tetapi, secanggih apapun taktik sepakbola, pada akhirnya setiap tim sepakbola pasti membutuhkan seorang pemain dengan spesialisasi mencetak gol ketika berada dalam situasi deadlock dan itu hanya didapatkan dari seorang pemain bertipikal striker murni. Selain karena perkembangan taktik permainan, kelangkaan pemain bernomor 9 ditenggarai akibat susahnya menemukan bakat baru yang berkepribadian egois.

Kok bisa? Iya, seorang striker murni dituntut memiliki sifat egois, karena tidak mungkin sebuah gol dapat tercipta dengan hanya saling mengumpan, harus ada satu orang yang menendang ke gawang. Sebuah media luar negeri pernah mengulas susahnya mencari pemain bertipikal striker murni di benua Asia, terutama Jepang dan Korea Selatan.

Budaya Yang Menghargai Kebersamaan Dan Cendrung Mengucilkan Seseorang

Media tersebut menyimpulkan faktor utama penyebab kelangkaan striker murni adalah budaya ketimuran di Asia yang bersifat komunal, budaya yang menghargai kebersamaan dan cendrung mengucilkan seseorang yang bersifat egois dan individualistis. Di level lokal, kondisinya malah lebih parah lagi, setelah era Bambang Pamungkas, sampai dengan saat ini, saya tidak melihat pemain lokal yang berlaga di Liga Indonesia, mempunyai tipikal striker murni.

Sempat timbul harapan melihat potensi yang dimiliki Lerby Eliandry dan mantan striker timnas usia 19 tahun, Muchlis Hadi Ning Syaifullah, tetapi seiring jam bermain mereka yang sedikit di klub masing-masing, kemampuan mereka menjadi tidak terasah dan stagnan. Di Indonesia, bukan efek budaya ketimuran yang menyebabkan kelangkaan striker murni, karena asumsi itu dengan mudah dipatahkan dengan fakta banyaknya politikus egois berebut kekuasaan 🙂

Ditenggarai penyebab utamanya adalah kebijakan klub-klub Liga I yang lebih menyukai pemain asing di posisi striker. Tidak seperti pemain sayap, sangat jarang striker lokal menjadi pemain inti di Liga I Indonesia. Melihat fakta ini, dibutuhkan kebijaksanaan dari PSSI dan regulator Liga Indonesia untuk menyikapi situasi ini. Mungkin dengan membatasi kebebasan klub membeli pemain di posisi striker atau dengan mewajibkan klub memakai pemain lokal di posisi striker.

Bagaimanapun, semua kompetisi lokal dari tingkat Junior sampai dengan tingkat senior muaranya adalah prestasi Tim Nasional Indonesia. Saya sebagai pencinta Timnas, rindu dengan seorang striker yang punya insting gol, seperti Bambang Pamungkas dan Kurniawan Dwi Yulianto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *